Jumat, 06 Mei 2016

Tamparan Keras, Kecewa

Beberapa hari yang lalu, salah satu organisasi yang saya ikuti mengadakan sebuah Performance Appraisal (PA) yaitu semacam evaluasi internal. Persiapan dilakukan oleh saya dan kedua partner saya dan selama persiapan semua baik- baik saja. Singkat cerita, evaluasi untuk saya dilontarkan dari seorang teman yang berkata bahwa saya membuatnya marah hingga muntab, terjadi tidak hanya sekali. Selain itu teman saya tersebut merasa bermasalah dengan saya berkali- kali, dan merasa saya membuatnya merasa tertekan. Saya akui, saya sangat amat terkejut, seperti mendapat tamparan sangat keras saat itu. Namun satu sisi, saya sangat marah saat itu, mengapa? Saat saya tanya kapan saya membuatnya marah dan tertekan, dia berkata lupa, dan tidak bisa menjelaskannya. Lantas, saya harus bagaimana untuk introspeksi hal yang tidak saya sadari, dan orang yang 'menunjukkan kesalahan' saya pun lupa dimana kesalahan saya? Pada awal perkenalan kami semua di organisasi ini juga saya pernah mengatakan bahwa saya lebih senang dan akan sangat menghargai kritik saat itu juga, secara langsung, daripada sudah terlewat apalagi saya mendengarnya dari orang lain. Kebetulan juga, teman ini adalah salah satu teman yang saya anggap sudah mengenal saya, karena ia sendiri pernah mengatakan bahwa ia sudah tahu siapa saya.

Saya akui memang beberapa bulan kami bekerja bersama, saya melihat ternyata banyak perbedaan pandangan antara saya dengan teman saya ini secara pribadi, dan kadang saya dan beberapa teman dengan teman saya yang satu ini, namun saya tidak pernah merasa melawan pendapatnya karena toh ia memegang jabatan tertinggi di organisasi kami, saya hanya memberi beberapa masukkan dan seringkali masukkan itu diterimanya dengan baik, jika tidak yasudah saya diam saja. Selain itu, saya juga hanya sekali benar- benar merasa bermasalah dengannya sampai saya mengabaikan dia, dan masalah itu langsung dia sadari dan langsung diselesaikan hari itu juga. Semua kerjasama yang saya kira mulus dan baik, semua yang ia tampilkan begitu baiknya di depan saya ternyata berbeda. Sampai saat ini saya merasa diri saya secara otomatis membuat jarak antara saya dengan teman saya, saya tidak nyaman, saya merasa takut, saya merasa kecewa atas perbuatannya tersebut. Biasanya jika saya merasakan hal seperti ini saya akan berterus terang kepada orang yang bersangkutan, namun kali ini saya merasa malas karena saya tidak mau dibilang menekan dia lagi. Bahkan saya tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain karena ini masalah internal kami. 

Jika dibilang dari cara bicara saya yang nyolot dan keras serta muka saya yang superjutek, semua orang sudah tahu itu. Bahkan iapun sudah mengenal saya sekitar satu tahun dengan gaya bicara saya yang seperti itu. Apakah nada bicara nyolot, keras, dan muka superjutek bisa membuat saya menjadi orang yang menekan dengan semena- mena? Saya rasa saya tidak melakukan hal tersebut. Rasanya saya ingin mengelak atas semua hal yang dikatakannya saat ia mengatakan hal itu, namun saya harus menahan diri, di sisi lain diri saya, saya juga tetap introspeksi diri untuk mencegah hal tersebut terulang lagi. Namun sekali lagi, dari dalam diri saya, saya merasa bukan saya yang harus menjadi orang yang salah, bahkan iapun tidak bisa menunjukkan dimana letak kesalahan saya secara nyata. Saat ini saya sedang berusaha menata kembali perasaan saya kepada teman saya ini, agar kami dapat bekerjasama dengan baik hingga akhir masa jabatan kami usai.

Saya tidak tahu respon saya untuk marah dan kecewa ini bisa dipermaklumkan atau tidak, namun yang saya rasakan sampai saat ini ya seperti itu. Selanjutnya, saya merasa orang disekitar saya akan lebih senang jika saya diam, menutup mulut saya. Baiklah, saya akan berusaha diam mulai saat ini.

"Sometimes, not saying anything is the best answer. You see, silence can never be misquoted." - Unknown

Kamis, 17 Maret 2016

Biarlah Anjing itu Menggonggong Keras

Setelah sekian lama akhirnya sempet cerita lagi disini, walaupun yaaaaaaaa tengah malem gini. 

Sekitar sebulan yang lalu aku mengalami sebuah hal yang kuanggap itu sebagai sebuah gongongan anjing marah yang lagi diajari membuang air pada tempatnya. Kenapa begitu? Anjing itu lagi diberi tahu hal yang benar, tapi karena tidak terbiasa dengan hal benar maka dia mengamuk untuk menutupi rasa malunya. Kali ini anjing itu mengamuk dengan cara menyalahkan orang lain, dan kebetulan orang lain itu aku. Beruntungnya, banyak orang diluar sana yang bisa melihat secara jelas mana yang benar dan yang salah, mana yang baik dan yang buruk. 

Aku tidak peduli tentang bagaimana orang akan menilai diriku setelah aku menjadi "korban". Aku hanya merasa kesal karena seingatku aku tidak pernah merugikan dia, bahkan kami berbincang pun tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena pada dasarnya ketika aku tidak cocok dengan orang yang pertama kali kutemui aku akan sesegera mungkin memasang tembok yang tinggi dan tebal untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. Bukan berarti aku memusuhinya ataupun menjahati dia, justru kebalikannya, aku akan tetap bersikap baik seperti sewajarnya. Hanya saja tidak mau menjadi lebih dekat dari sebatas : gue tau nama lo.

Kusebut diriku sebagai korban karena dia tidak berani untuk mengatakan hal seperti itu tepat di depan muka ku, bahkan beberapa hari setelah kejadian itu, dia tidak berani menatap mataku. Apapun statement yang ia keluarkan saat itu langsung aku konfirmasi ke pihak lain yang dibawa- bawanya. Hasilnya? Perkataannya tidak benar. Sejak saat itu, akupun tidak peduli lagi, ya itulah anjing menggonggong yang terkadang tidak bisa mengontrol gonggongannya sendiri. Biasanya juga air beriak tanda tak dalam, dan seringkali gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan terlihat, betul?



Minggu, 17 Januari 2016

Rasa syukur adalah sumber kebahagiaan

Pagi tadi, aku ikut menemani teman2 panitia dalam mencari dana dengan cara ngawul (ngawul itu jual baju2 bekas dengan harga murah) di daerah Stadion. Sebelumnya aku sudah pernah ngawul di tempat lain, dan saat itu memang aku tidak terlalu memperhatikan pembeli karena aku ada di bagian depan bersama teman yang lain untuk berteriak- teriak mempromosikan dagangan kami. Beda dengan tadi pagi, aku tidak terlibat secara langsung dalam awul tadi pagi, jadi aku hanya mengamati orang- orang yang berdatangan ke lapak kami. Beragam sekali para pembeli itu, ada yang galak dan memaksa, ada yang menawarnya jauh sekali dibanding harga yang ditawarkan, dan masih banyak lagi. Ada pembeli yang menarik perhatianku tadi pagi, seorang bapak membeli sebuah baju anak- anak di awul kami, harganya tujuh ribu rupiah. Setelah membayarnya, lalu bapak itu berdiri menghampiri seorang ibu dan dengan muka bahagia, bapak itu menunjukkan baju yang baru saja dibelinya. Lalu ibu itupun memberi tanggapan dengan bahagianya juga "Wah itu pas banget ukurannya sama badan si (nama seorang anak laki- laki, aku lupa siapa) bagus itu bagus" dalam bahasa jawa dan mereka berdua berlalu pergi. Kejadian yang berlangsung tidak sampai 5 menit itu cukup menamparku keras, dan membuatku ingin menangis sebenarnya.

Aku teringat pada beberapa tahun lalu, saat itu orangtuaku berbelanja di Mangga Dua. Mamiku membelikanku celana pendek santai model kolor. Modelnya itu tidak seperti celana santai untuk di rumah, namun bisa untuk pergi santai. Aku masih ingat dengan jelas mamiku menunjukkan 3 celana dengan warna yang berbeda dengan raut wajah ceria "Jes, ini tadi mami beliin buat kamu celana pendek buat jalan- jalan. Yang coklat sama item buat kamu, yang kuning buat mami". Dan saat itu juga aku menunjukkan raut wajah tidak suka dan berkata itu jelek mi, bagus yang model lain. Tamparan pertama yang aku dapat, terkadang aku baik sadar maupun enggak, tidak bisa menghargai apa yang menjadi pilihan orangtuaku. Padahal mereka pasti memilihkan yang terbaik untukku, dan layak tentunya.

Di sisi lain, akupun terkadang tidak bisa puas dengan apa yang aku miliki. Bersyukur sih rasanya tetap bersyukur, hanya saja rasa puas itu masih sulit sekali. Terkadang aku tetap ingin beli yang lebih dan lebih lagi. Walaupun itu hanya sebatas keinginan, tapi dari kejadian tadi pagi itu aku ingin belajar untuk puas. Banyak sekali orang yang kurang beruntung dibanding aku, namun seringkali aku melihat ke atas tidak ke bawah. Ketika melihat ke atas, otomatis rasa tidak puas itu semakin kuat. Maka itu seharusnya aku lebih sering melihat ke bawah agar aku tau apa artinya rasa syukur.

Renungan yang aku dapat hari ini tentunya tidak hanya aku abaikan begitu saja, tapi aku juga akan mengingatnya sebagai reminderku untuk tetap bersyukur. Gak berarti aku saat ini langsung berubah 100%

Jumat, 15 Januari 2016

Seringkali bahagia itu tidak sempurna

Tanggal 9 kemarin aku akhirnya kembali ke kota tempatku kuliah. Malam itu juga aku langsung main bareng sama temen- temen yang udah gak ketemu sekitar 3 minggu. Rasanya bahagia banget, ketawa lepas karena bercandaan mereka yang gak karuan. Kalo orang bilang saru, ya emang saru. Kalo orang bilang kasar, ya emang kasar. Tapi kami bisa kok bedain yang saru beneran yang mana, sama saru yang bercanda, sama halnya dengan kasar. Toh kami bahagia dengan segala bercandaan itu. Mulai dari malam itu sampai saat aku menulis cerita ini aku berkumpul dengan mereka- mereka itu setiap harinya. Rasanya seneng, lupa sama yang namanya capek. Lupa sama IP juga lol
Tapi yang namanya bahagia emang gak pernah sempurna loh. Takut itu selalu ada tepat di belakang bahagia itu. Rasanya gak enak banget. Ketika berkumpul sama temen- temen dan bercerita tentang orang lain (baca : ngomongin orang), banyak yang bilang gak menutup kemungkinan aku yang akan jadi bahan pembicaraan di tempat lain ketika ada yang tidak suka denganku dan aku tidak ada disitu. Ketakutan ini membuatku lebih banyak diam, dan mengikuti alurnya saja. Ketakutan ini membuatku sulit untuk bercerita karena takut salah. Aku adalah tipe orang yang sangat memilah apa yang bisa aku ceritakan dan yang tidak bisa, aku akan memikirkan segala resiko ketika aku mengeluarkan kata- kata dari mulutku. Ketika aku sudah berani mengeluarkan kata- kata berarti aku sudah benar- benar siap untuk menghadapi resikonya. Semua ini membuatku jadi takut. Hanya sebatas ketakutan aja sih, dan semoga sampai kapanpun itu hanya menjadi sebuah ketakutanku saja. Diluar rasa takutku, kapanpun aku siap kok dihadapkan dengan ketakutanku itu, karena sebenar- benarnya kamu, sesuci- sucinya kamu, se perfect nya kamu, people will judge you anyway :)



Jumat, 01 Januari 2016

Page 1 of 366

animated-hello-image-0008

Blog ini sudah lama, namun selama ini aku menulis lalu menghapusnya, karena aku malu melihat tulisanku sendiri hahaha. Ya, aku memang tidak pandai merangkai kata, namun aku suka sekali bercerita. Terkadang menulis di sosial media jauh lebih menenangkan dan memberikan rasa puas dibandingkan bercerita dengan orang lain. Kebetulan sekali akhir- akhir ini aku merasa ingin menulis di blog, namun belum sempat aku bereskan karena belum libur. Akhirnya selama beberapa hari ini aku sudah merapikan blogku dan hari ini aku menulis untuk yang pertama kalinya. Semoga ini kali terakhir aku mengulang menulis di blog ku :)