Pagi tadi, aku ikut menemani teman2 panitia dalam mencari dana dengan cara ngawul (ngawul itu jual baju2 bekas dengan harga murah) di daerah Stadion. Sebelumnya aku sudah pernah ngawul di tempat lain, dan saat itu memang aku tidak terlalu memperhatikan pembeli karena aku ada di bagian depan bersama teman yang lain untuk berteriak- teriak mempromosikan dagangan kami. Beda dengan tadi pagi, aku tidak terlibat secara langsung dalam awul tadi pagi, jadi aku hanya mengamati orang- orang yang berdatangan ke lapak kami. Beragam sekali para pembeli itu, ada yang galak dan memaksa, ada yang menawarnya jauh sekali dibanding harga yang ditawarkan, dan masih banyak lagi. Ada pembeli yang menarik perhatianku tadi pagi, seorang bapak membeli sebuah baju anak- anak di awul kami, harganya tujuh ribu rupiah. Setelah membayarnya, lalu bapak itu berdiri menghampiri seorang ibu dan dengan muka bahagia, bapak itu menunjukkan baju yang baru saja dibelinya. Lalu ibu itupun memberi tanggapan dengan bahagianya juga "Wah itu pas banget ukurannya sama badan si (nama seorang anak laki- laki, aku lupa siapa) bagus itu bagus" dalam bahasa jawa dan mereka berdua berlalu pergi. Kejadian yang berlangsung tidak sampai 5 menit itu cukup menamparku keras, dan membuatku ingin menangis sebenarnya.
Aku teringat pada beberapa tahun lalu, saat itu orangtuaku berbelanja di Mangga Dua. Mamiku membelikanku celana pendek santai model kolor. Modelnya itu tidak seperti celana santai untuk di rumah, namun bisa untuk pergi santai. Aku masih ingat dengan jelas mamiku menunjukkan 3 celana dengan warna yang berbeda dengan raut wajah ceria "Jes, ini tadi mami beliin buat kamu celana pendek buat jalan- jalan. Yang coklat sama item buat kamu, yang kuning buat mami". Dan saat itu juga aku menunjukkan raut wajah tidak suka dan berkata itu jelek mi, bagus yang model lain. Tamparan pertama yang aku dapat, terkadang aku baik sadar maupun enggak, tidak bisa menghargai apa yang menjadi pilihan orangtuaku. Padahal mereka pasti memilihkan yang terbaik untukku, dan layak tentunya.
Di sisi lain, akupun terkadang tidak bisa puas dengan apa yang aku miliki. Bersyukur sih rasanya tetap bersyukur, hanya saja rasa puas itu masih sulit sekali. Terkadang aku tetap ingin beli yang lebih dan lebih lagi. Walaupun itu hanya sebatas keinginan, tapi dari kejadian tadi pagi itu aku ingin belajar untuk puas. Banyak sekali orang yang kurang beruntung dibanding aku, namun seringkali aku melihat ke atas tidak ke bawah. Ketika melihat ke atas, otomatis rasa tidak puas itu semakin kuat. Maka itu seharusnya aku lebih sering melihat ke bawah agar aku tau apa artinya rasa syukur.
Renungan yang aku dapat hari ini tentunya tidak hanya aku abaikan begitu saja, tapi aku juga akan mengingatnya sebagai reminderku untuk tetap bersyukur. Gak berarti aku saat ini langsung berubah 100%
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.