Setelah sekian lama akhirnya sempet cerita lagi disini, walaupun yaaaaaaaa tengah malem gini.
Sekitar sebulan yang lalu aku mengalami sebuah hal yang kuanggap itu sebagai sebuah gongongan anjing marah yang lagi diajari membuang air pada tempatnya. Kenapa begitu? Anjing itu lagi diberi tahu hal yang benar, tapi karena tidak terbiasa dengan hal benar maka dia mengamuk untuk menutupi rasa malunya. Kali ini anjing itu mengamuk dengan cara menyalahkan orang lain, dan kebetulan orang lain itu aku. Beruntungnya, banyak orang diluar sana yang bisa melihat secara jelas mana yang benar dan yang salah, mana yang baik dan yang buruk.
Aku tidak peduli tentang bagaimana orang akan menilai diriku setelah aku menjadi "korban". Aku hanya merasa kesal karena seingatku aku tidak pernah merugikan dia, bahkan kami berbincang pun tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena pada dasarnya ketika aku tidak cocok dengan orang yang pertama kali kutemui aku akan sesegera mungkin memasang tembok yang tinggi dan tebal untuk menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. Bukan berarti aku memusuhinya ataupun menjahati dia, justru kebalikannya, aku akan tetap bersikap baik seperti sewajarnya. Hanya saja tidak mau menjadi lebih dekat dari sebatas : gue tau nama lo.
Kusebut diriku sebagai korban karena dia tidak berani untuk mengatakan hal seperti itu tepat di depan muka ku, bahkan beberapa hari setelah kejadian itu, dia tidak berani menatap mataku. Apapun statement yang ia keluarkan saat itu langsung aku konfirmasi ke pihak lain yang dibawa- bawanya. Hasilnya? Perkataannya tidak benar. Sejak saat itu, akupun tidak peduli lagi, ya itulah anjing menggonggong yang terkadang tidak bisa mengontrol gonggongannya sendiri. Biasanya juga air beriak tanda tak dalam, dan seringkali gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan terlihat, betul?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.