Beberapa hari yang lalu, salah satu organisasi yang saya ikuti mengadakan sebuah Performance Appraisal (PA) yaitu semacam evaluasi internal. Persiapan dilakukan oleh saya dan kedua partner saya dan selama persiapan semua baik- baik saja. Singkat cerita, evaluasi untuk saya dilontarkan dari seorang teman yang berkata bahwa saya membuatnya marah hingga muntab, terjadi tidak hanya sekali. Selain itu teman saya tersebut merasa bermasalah dengan saya berkali- kali, dan merasa saya membuatnya merasa tertekan. Saya akui, saya sangat amat terkejut, seperti mendapat tamparan sangat keras saat itu. Namun satu sisi, saya sangat marah saat itu, mengapa? Saat saya tanya kapan saya membuatnya marah dan tertekan, dia berkata lupa, dan tidak bisa menjelaskannya. Lantas, saya harus bagaimana untuk introspeksi hal yang tidak saya sadari, dan orang yang 'menunjukkan kesalahan' saya pun lupa dimana kesalahan saya? Pada awal perkenalan kami semua di organisasi ini juga saya pernah mengatakan bahwa saya lebih senang dan akan sangat menghargai kritik saat itu juga, secara langsung, daripada sudah terlewat apalagi saya mendengarnya dari orang lain. Kebetulan juga, teman ini adalah salah satu teman yang saya anggap sudah mengenal saya, karena ia sendiri pernah mengatakan bahwa ia sudah tahu siapa saya.
Saya akui memang beberapa bulan kami bekerja bersama, saya melihat ternyata banyak perbedaan pandangan antara saya dengan teman saya ini secara pribadi, dan kadang saya dan beberapa teman dengan teman saya yang satu ini, namun saya tidak pernah merasa melawan pendapatnya karena toh ia memegang jabatan tertinggi di organisasi kami, saya hanya memberi beberapa masukkan dan seringkali masukkan itu diterimanya dengan baik, jika tidak yasudah saya diam saja. Selain itu, saya juga hanya sekali benar- benar merasa bermasalah dengannya sampai saya mengabaikan dia, dan masalah itu langsung dia sadari dan langsung diselesaikan hari itu juga. Semua kerjasama yang saya kira mulus dan baik, semua yang ia tampilkan begitu baiknya di depan saya ternyata berbeda. Sampai saat ini saya merasa diri saya secara otomatis membuat jarak antara saya dengan teman saya, saya tidak nyaman, saya merasa takut, saya merasa kecewa atas perbuatannya tersebut. Biasanya jika saya merasakan hal seperti ini saya akan berterus terang kepada orang yang bersangkutan, namun kali ini saya merasa malas karena saya tidak mau dibilang menekan dia lagi. Bahkan saya tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain karena ini masalah internal kami.
Jika dibilang dari cara bicara saya yang nyolot dan keras serta muka saya yang superjutek, semua orang sudah tahu itu. Bahkan iapun sudah mengenal saya sekitar satu tahun dengan gaya bicara saya yang seperti itu. Apakah nada bicara nyolot, keras, dan muka superjutek bisa membuat saya menjadi orang yang menekan dengan semena- mena? Saya rasa saya tidak melakukan hal tersebut. Rasanya saya ingin mengelak atas semua hal yang dikatakannya saat ia mengatakan hal itu, namun saya harus menahan diri, di sisi lain diri saya, saya juga tetap introspeksi diri untuk mencegah hal tersebut terulang lagi. Namun sekali lagi, dari dalam diri saya, saya merasa bukan saya yang harus menjadi orang yang salah, bahkan iapun tidak bisa menunjukkan dimana letak kesalahan saya secara nyata. Saat ini saya sedang berusaha menata kembali perasaan saya kepada teman saya ini, agar kami dapat bekerjasama dengan baik hingga akhir masa jabatan kami usai.
Saya tidak tahu respon saya untuk marah dan kecewa ini bisa dipermaklumkan atau tidak, namun yang saya rasakan sampai saat ini ya seperti itu. Selanjutnya, saya merasa orang disekitar saya akan lebih senang jika saya diam, menutup mulut saya. Baiklah, saya akan berusaha diam mulai saat ini.
"Sometimes, not saying anything is the best answer. You see, silence can never be misquoted." - Unknown
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.